Dia (4)
Dari jauh dia kirim foto kepadaku. Senyumnya yang khas dan kerudungnya yang sesuai membuatku trenyuh. Kau tahu, aku ingin sekali meneleponnya seraya mengatakan aku merindukannya; atau kukirim email kepadanya, bahwa diriku baik-baik saja (meski aku sebetulnya sering demam tapi selalu tak kuhiraukan karena pekerjaan yang menyanderaku).
Aku tidak melakukan kedua-duanya. Kuputuskan biar dia menyibukkan diri dengan kegiatan sehari-hari bersama anak-anaknya. Aku menahan diri untuk menanyakan keadaannya karena peringatan salah seorang anaknya untuk tidak “mengganggu” ibunya. Aku cukup kesal dengan kata itu. Ingin sekali kubalas email tersebut tapi aku ingat dengan seorang Sutan Syahrir yang tidak pernah mendendam meskipun kepada lawan politiknya. Dan, itu dia ajarkan kepada istrinya, Poppy, serta anak-anaknya. Syahrir yang seorang sosialis demokrat mengajariku banyak hal ketegasan, keteguhan, berani mengambil risiko dan … kesunyian karena terpisah dengan keluarga selama pembuangannya di Banda Neira, Ambon, Maluku.
Kau tahu, aku ingin sekali membalas email yang ia sertai dengan foto-fotonya seraya mengucapkan terima kasih. Tapi kuurungkan niatku itu. Aku ingin seperti Syahrir, yang tidak tenggelam dalam romantisme picisan, tetapi dia asyik mengajari anak-anak angkatnya baca tulis dan berhitung selama di Banda Neira.
Boleh jadi karena Syahrir, atau juga melupakannya untuk sementara waktu, aku memusatkan diri untuk mencari jalan bagaimana agar adik iparku bisa kuliah. Kau tahu, sekonyong-konyong aku merasa sangat egois. Aku terlalu memperhatikan kebutuhan-kebutuhanku tanpa berusaha untuk peduli pada sesama. (Tapi suara hatiku yang lain mengatakan, semua itu karena memang aku tak punya pendapatan lebih. Jadinya, bagaimana mungkin membantu sesama?)
Di rumahku, ada satu tanggungan lagi yang harus kuperjuangkan hidupnya. Sesungguhnya aku terlalu rapuh untuk bisa memikul semua ini. Tapi, risiko tampaknya harus diambil agar semua tidak terlambat.
Kepadanya kelak, akan aku katakan alasan-alasanku mengapa tidak membalas email dan teleponnya. Semoga ia paham.