Dia (3)
Baru empat hari dia pergi ke luar negeri. Aku kesepian. Sewaktu pulang ke rumah, biasanya aku mendapatinya habis mandi seolah-olah dia tengah menyambutku. Kurasa tak salah kalau aku beranggapan demikian. Karena setelah itu, dia menyiapkan makanan untukku. Setelah bincang-bincang mengenai pekerjaan, ataupun hal-hal lainnya, baru kami masuk kamar.
Tak jarang dalam suatu tema kami berdebat. Aku, yang merasa pintar darinya, tak sadar menyinggung dirinya akan ‘kekurangan ilmunya’. Itu baru ketahuan ketika akhirnya dia bilang kepadaku bahwa dirinya merasa terhina. Kalau sudah gitu, aku berusaha mati-matian merajuknya agar ia memaafkanku.
Kini ia sedang pergi menengok anaknya. Aku menyesal tak bisa memberikan kenangan manis sebelum kami berpisah di bandara. Rasanya, aku ingin berlutut di depannya menyatakan penyesalanku. Memang, pemikirannya cukup antisipatif yang baru aku ketahuan setelah sesuatu terjadi.
Sesaat aku mencuci baju kami, baru semakin kurasakan bahwa dia perempuan tangguh bagiku. Betapa tidak, setiap selesai pulang kerja, dia langsung mencuci dan mandi. Padahal itu sudah larut malam. Kadang kalau dia tidak lelah banget, dia berusaha memenuhi hajatku padahal aku sendiri bertoleransi mengingat kelelahannya. Tapi dia tetap melakukannya.
Aku cukup belajar banyak darinya mengenai kerapihan, ketertiban, keindahan, sesuatu yang khas yang menonjol pada perempuan. Sebagian itu kutularkan kepada keluargaku. Aku sering tidak paham dengan perempuan ini. Meski dihina, direndahkan–sebagaimana pengakuannya–dia tetap menyambung silaturahmi dengan orang-orang yang menghina dan merendahkannya. She’s a wonder woman for me!