Tentang Dia (1)

Juli 21, 2008 at 11:13 am (Refleksi, ceritaku)

Suatu hari ia bercerita kepadaku:

“Secara materi, saya lahir dan dibesarkan dari kalangan yang mampu. Dari dulu, aku selalu ingin memberontak. Sementara kakak dan adikku tergolong yes man, aku sebaliknya. Sehingga, ketika aku memutuskan untuk menggunakan kerudung sekitar tahun 1980-an, ibuku marah besar. Sampai-sampai ia menyuruh kakak dan pacarnya melemparkan aku ke kandang anjing piaraan kami. Sebagai hukuman, aku tidak dikasih makan seharian. Aku diperlakukan seperti anjing. Karena lapar, aku terpaksa memakan makanan anjing.”

Aku hanya terperangah mendengar ceritanya. Aku ingin bersyukur tetapi aku takut ketika aku bersyukur, aku menertawakan kesengsaraannya. Namun, bagaimanapun, aku merasa mendapatkan bahwa materi itu bukan segalanya jika mendengar ceritanya yang berani berkorban demi sehelai kerudung. Aku sendiri dilahirkan dari kalangan tak berada. Semuanya harus kerja keras. Mungkin karena itu, aku sendiri cenderung kurang puas dengan apa yang kuterima (sic!) sehingga kelak aku merasa kemaruk dengan gaya kerjaku ini.

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Memilih Guru, Sahabat, dan Pemimpin

Juli 15, 2008 at 10:02 am (Al-Hikam-Ibn Athaillah) ()

“Janganlah anda berguru atau bersahabat dengan orang yang tidak membangkitkan dirimu dan menunjukkan kepada Allah, baik kondisi ruhani (haal) maupun kata-katanya. Ketika anda berbuat buruk, ia memberitahu kalau perbuatan itu baik bagi anda, karena sesungguhnya anda telah bergabung pada orang yang lebih buruk daripada diri anda.”

Orang yang tidak membangkitkan dirimu, tingkah laku ruhani maupun ucapannya yang bisa menunjukkan kepada Allah adalah orang yang sesungguhnya belum menempati posisi hakikat, belum mampu menghilangkan hasratnya dari sesama makhluk, bahkan dia lebih rela pada kepentingan dirinya. Baca entri selengkapnya »

Permalink & Komentar