Pendekatan Filosofis dan Mistis terhadap Dialog Peradaban

Salah satu artikel yang muncul di Jurnal AL-Huda edisi 15 adalah tulisan Vida Ahmadi, seorang profesor perempuan yang menggeluti tasawuf. Bagi yang berminat pada Jurnal Al-Huda No.15 ini, silakan memesan ke Hasan Shahab di 021-7996767, Bagian Pemasaran.

Vida Ahmadi

PERKATAAN merupakan suatu manifestasi kebijaksanaan dan cinta. Manusia adalah makhluk yang bertanggung jawab, sebagai suatu produk pemilik cinta dan kearifan, dan karena alasan ini ia adalah manusia yang pantas untuk dihubungkan dengan Tuhan, Sumber Keberadaan. Agama merupakan sumber yang paling berkuasa yang menarik manusia kepada filsafat dan mistisisme. Filsafat —menggunakan konsep dialektika dan dialog sebagai hasilnya, dan menggambarkannya di atas konsep “kesatuan dalam keragaman” dan “keragaman dalam kesatuan”— berusaha untuk mendamaikan pertentangan-pertentangan dalam kehidupan manusia sehingga ia bisa mencapai kesempurnaan. Mistisisme, dengan kesatuan wujud sebagai prinsip sentralnya, mendamaikan pertentangan kehidupan manusia dengan memulai suatu dialog bersahabat dan mengilhami manusia dengan suatu gerakan yang diilhami oleh cinta.

Acap kali sejarah menunjukkan fakta menyakitkan bahwa dua belahan dunia, Timur dan Barat, senantiasa berinteraksi dan saling memengaruhi sebagai akibat peperangan dan konsekuensi perang. Apakah peradaban dihukumi semata-mata dalam kerangka kemampuan mereka untuk membawa penghancuran massa pada rival-rivalnya? Apakah perang satu-satunya cara, cara yang terbaik? Haruskah orang bertindak sebagai sekadar pengamat karena sejarah menjadikannya sebagai rangkaian “tak terelakkan”? Bisakah orang tidak percaya bahwa rangkaian ini bisa diubah secara menakjubkan? Apakah tidak ada pilihan selain menyerah pada roda-roda pedati barang-barang sejarah tanpa ampun? Mestikah orang cuma mengawasi secara tak berdaya peperangan, pertentangan dan pertumpahan darah, dan membiarkan manusia, makhluk mulia dan paling kuat secara intelektual, sebagai penonton di tengah-tengah kebisingan ini?

Apakah yang membantu manusia untuk menemukan kebenaran dan memberanikan untuk percaya bahwa ia bisa membentuk sejarah pada suatu bentuk yang berbeda? Jawabannya terletak pada watak dinamis dan pikiran kreatifnya, suatu pikiran yang sifat-sifat terbaiknya adalah fakultas-fakultas nalarnya atau berbicara.

Berbicara, suatu sifat yang aneh dan menarik-pikiran, acap diterima apa adanya. Berbicara tidak semata-mata menggunakan kata-kata, melainkan suatu bahasa yang diilhami oleh pikiran dan penalaran. Kita semua tahu bahwa para saintis alam, filosof, dan mistikus percaya bahwa, selain manusia, semua makhluk menghasilkan suara dari mereka sendiri. Tapi suara-suara ini berbeda dari berbicara, yang sesungguhnya merupakan bentuk suara paling sublim dan unik bagi manusia. Al-Quran mengatakan, “Dan tak ada suatu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya… (QS Al-Isrâ [17]: 44), tetapi manusia adalah suatu cerita yang berbeda. Nilai berbicara dari perspektif agama adalah pertimbangan yang mulia, dan rujukan pada bahasa dan berbicara dalam Injil dan al-Quran adalah kesaksian atas arti penting dari masalah ini. Pada dasarnya, kreativitas adalah suatu hasil dari ujaran kata-kata Allah, “Jadilah’, maka jadilah ia”. “Allah berbicara dan alam semesta pun tampak,” “Pada permulaan adalah Kata, dan Kata adalah Allah.” (QS. An-Nahl [16]: 40; Kejadian 1:1). Semua ini menunjukkan arti penting berbicara dalam kebudayaan manusia dan pemikiran agama.

Dunia yang kita huni, pikirkan, dan terlibat dalam berbagai aktivitas kreatif merupakan suatu kombinasi kompleks dari fenomena dan pertentangan yang berlawanan. Adalah fenomena pertentangan ini yang membentuk dasar pengetahuan manusia akan dirinya sendiri dan orang lain, dan di antara fenomena misterius yang mengitarinya, memasukinya dalam suatu dorongan dinamis dan berkelanjutan untuk diketahui. Manusia, yang sifat-sifat mulianya adalah penuh perhatian, rasionalitas, dan berbicara kreatif, secara tunak telah menginvestigasi, mempelajari tentang, mengkritik, dan bahkan mengambil manfaat atas konflik-konflik ini untuk membuktikan nalarnya.1 Manusia juga telah menemukan dialektika-dialektika untuk tujuan ini. Dialektika adalah, menurut Hegel, meskipun sebagai suatu perjuangan di antara pertentangan-pertentangan, bukanlah suatu cara menandai waktu melainkan suatu sarana melintasi dan mencapai kesempurnaan, suatu lintasan yang mencakup pemikiran kritis dan mendalam.2 Jadi, pikiran dan berbicara adalah dua aktivitas manusia yang sangat berkelindan. Itulah, mungkin, mengapa mazhab-mazhab Islam tertentu seperti Asy’ariyah dan Ikhwan al-Shafa (Persaudaraan Suci) percaya akan al-kalam al-nafsî, atau “bicara diri”.3 Ini suatu varian pada hubungan antara pikiran manusia dan berbicara yang digagas oleh para pemikir sejak Plato dan diungkapkan dengan baik dalam kalimat, “berpikir adalah suatu cara berbicara tersembunyi”.4 Hegel memandang dialektika sebagai rekonsiliasi konflik-konflik dalam keberadaan objek-objek dan juga dalam pikiran manusia, dan menurut penulis, dalam tindakan dan tingkah laku manusia, karena pikiran mempunyai pengaruh substansial pada pikiran manusia.

Dialog semacam ini merupakan perjuangan bagi keutamaan, membebankan perfeksionisme inheren dalam pikiran manusia, suatu perfeksionisme yang mencari yang terbaik di antara banyaknya perbedaan dan pandangan yang berlawanan, sesuatu yang akan menjawab seruan wataknya untuk kebaikan absolut. Ini merupakan suatu pencarian transendental yang mengilhami tidak hanya benak dan kalam manusia, namun juga perbuatan-perbuatannya yang paling halus. Manusia berutang pada intelek dan ruh kreatifnya dan sifat inilah yang menjadikannya layak mengharapkan sumber wahyu dan ketuhanan, suatu pengharapan yang ditubuhkan dengan baik dalam berbagai cara dalam agama-agama sepanjang sejarah.

Dengan mempertanyakan persoalan-persoalan epistemologis yang paling fundamental dan mencari-kebenaran, agama itu sendiri adalah fenomena pertama yang telah menyentuh kutub-kutub yang berlawanan dari eksistensi bumi dan langit dalam labirin pluralitas dan perbedaan. Allah Swt telah menantang manusia pada dialektika yang paling agung atas keberadaannya, suatu dialektika yang mengilhami dialog kehidupan yang paling dinamis menuju suatu lompatan ke depan yang menakjubkan. Karena alasan ini bahwa para nabi memulai risalah mereka dengan kata “bicaralah”, suatu pembicaraan dua-pihak yang melibatkan intelek manusia melalui logika dan penalaran.

Dengan menyajikan suatu gambaran pluralitas dan konflik, konflik-konflik yang nyaris tidak bisa saling menerima, agama telah mengajak manusia kepada suatu diskusi intelektual-praktis meja bundar yang besar. Hanya ini yang mungkin karena ia memiliki sifat-sifat mulia ini dan ia ditantang untuk menggunakan semua bakat dan kecakapannya untuk menemukan sarana-sarana berarti untuk suatu rekonsiliasi logis atas konflik-konflik ini. Agama mendorong manusia untuk berpikir benar, melihat benar, dan bertindak benar dalam pencariannya akan kesatuan ultimat dari eksistensi karena dialektika-dialektika, dan hasil-hasil luhurnya, dialog kritis, menuntut investigasi kritis dan cermat dalam pencarian ini, yang mengajarkan manusia untuk menghayati kehidupan secara berani sebagai suatu tantangan. Agama mengajarkan manusia kemampuan untuk terlibat dalam dialog yang kreatif dan efektif. Manusia pertama-tama harus mengenali dirinya sendiri untuk memperbaiki kehidupan makhluk lain dan dirinya sendiri dan menatap dirinya sendiri dan dunia dengan wawasan.

Agama adalah realitas yang mengantarkan manusia untuk menjelajahi semesta dan mengajukan pertanyaan ultimat tentang eksistensi melalui dialektika-dialektika yang muncul melalui fitrahnya. Ia mempermudah manusia untuk mencapai suatu rekonsiliasi atas semua pluralitas yang berbenturan tersebut sehingga ia bisa menyadari kesatuan, yang merupakan esensi fundamental wujud dan kebenaran eksistensi. Instrumen besar dari dialog ini adalah intelek dan fitrahnya. Karena alasan inilah para sosiolog dan antropolog percaya bahwa dunia “intelek” diturunkan dari akar yang sama dengan agama, dari religio, yang berarti hubungan.5

Sesungguhnya, intelek dan agama merupakan dua proses yang sangat penting yang menyentuhkan manusia pada kebenaran. Bahkan sejarah ringkas dari agama akan menunjukkan bahwa para nabi Tuhan memilih dialog dan argumentasi logis sebagai langkah pertama dan paling utama bagi penyebaran risalah mereka.

Dengan menjelaskan risalah mereka, mereka berusaha mencapai suatu pemahaman bijaksana dan pada saat yang sama ramah, dan ayat-ayat seperti “berbicara dengan lembut” — dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik. (QS. An-Nahl [16]: 125) — memaparkan bukti penting ini. Sesungguhnya, para nabi termasuk di antara orang-orang yang menjanjikan kedamaian dan persahabatan melalui pemikiran dan petunjuk suci. Misi terbesar mereka adalah menjadikan manusia menghadapi rahasia-rahasia dan misteri-misteri agama dan membangunkan fitrah mereka melalui suatu dialog. Ini merupakan dialog antara Wujud Mutlak, Tuhan, dan makhluk paling cerdas, manusia, sehingga ia bisa memperoleh kebenaran dengan memahami konflik-konflik realitas. Meskipun berperang, manusia pada akhirnya menghasratkan perdamaian, persahabatan, cinta, serta dialog rasional dan mencerahkan, karena ini merupakan watak fitrahnya.

Namun aspek yang paling mengemuka dari agama adalah misterinya. Kendati di saat yang sama, ia memaksa manusia, melalui sejarah, untuk melakukan dialog, sebagai ikhtiar dan pencarian tiada henti melalui misteri ini. Gratifikasi penemuan kebenaran tersembunyi melalui pemikiran dan pengetahuan-diri telah mengantarkan manusia pada suatu interpretasi yang membangunkan dan baru atas wujud. Seandainya kita menerima bahwa kata dîn, agama, diturunkan dari kata Sansekerta daena, yakni “kesadaran spiritual” dan “keterjagaan”, kita lebih tahu sepenuhnya bagaimana agama merupakan ajakan terbesar kehidupan pada suatu dialog untuk mencari kebenaran. Ia menuntut sebuah dialog yang menarik cita rasa orang banyak, jika tidak semua, yang secara inheren menggemari dan mencintai pengetahuan dan terbuka pada petunjuk dan bimbingan.

Agama, yang fungsinya membantu manusia menuju perubahan dan kesadaran-diri dalam dunia pluralitas yang multi-warna ini agar selaras dengan kebutuhan manusia terhadap petunjuk, telah dikirimkan kepadanya dalam berbagai cara dan bentuk sepanjang sejarah. W. Cantwell Smith berkata: “Sejarah agama menunjukkan bahwa Allah telah berfirman dalam berbagai cara kepada orang-orang dari berbagai kebudayaan agama, menyediakan bagi mereka bimbingan dan sarana keselamatan.”

Menurut saya, adanya konflik-konflik dan pluralitas tersebut menghasilkan kebutuhan akan pemahaman yang lebih besar dan tidak ada kebutuhan terhadap kepedulian ataupun kebingungan.

Dengan membuang semua kontradiksi mental dan kecemasan, agama menjadi cara yang paling menawan dalam menatap kehidupan dan satu-satunya cara yang tepat untuk membahas kebenaran. Agama mengajarkan kepada manusia akan misinya dalam kehidupan: membedakan realitas ultimat dari dunia material dengan melintasinya dan meradukannya dengan kekuatan akal kreatifnya. Dalam hal ini, agama mempermudah manusia untuk membangun harmoni dan rekonsiliasi antara pikiran dan materi, langit dan bumi, realitas dan kebenaran, dan dengan demikian, menjadikannya mulia sebagai citra Tuhan di muka bumi. Dengan menawarkan ajaran-ajaran tersebut, agama-agama besar telah mendorong jutaan pengikut dan pemikir, membangun peradaban besar yang memberi kesaksian atas kejayaan manusia.

Dalam kenyataannya, peradaban memberikan pikiran-pikiran manusia yang sadar untuk merespon dialektika agama dan dialog logisnya. Ketika menggali sebuah pertanyaan, yang memerlukan analisis dan temuan, manusia tengah menyuburkan ladang jiwanya. Peradaban merupakan manifestasi atas kultivasi mental ini, yakni membuat kemungkinan sebagai hasil kritikan dan metode penuh damai dan konstruktif. Segala agama mengutuk penggunaan cara kekerasan apapun untuk menantang oposisi tersebut.

Manusia telah merasakan dua pendekatan berharga untuk mengembangkan pikirannya dalam eksistensi sejarahnya yang panjang: filosofis dan mistis. Sementara pihak menganggap dua pendekatan tersebut sebagai hal yang berbeda, secara menarik keduanya justru tidaklah berbeda. Alih-alih, setiap kali manusia menggunakan satu pendekatan pada hal lain, sesungguhnya ia telah mencabut dirinya dari kesenangan mendapatkan kebenaran. Sebenarnya, filsafat dan mistisisme merupakan dua pembacaan agama yang berbeda, satu intelektual, yang lain artistik, namun keduanya mendambakan evolusi manusia melalui logika dan cinta kasih.

Kita tidak bisa berbicara tentang tradisi filosofis dan pengalaman mistis tanpa pertama-tama memperhatikan ajaran-ajaran dan kepercayaan-kepercayaan agama. Studi tentang agama adalah studi tentang manusia dan misteri-misteri kehidupannya yang menakjubkan. Peradaban global masa depan akan tergantung pada kualitas dan kebenaran final, dan ini tidak akan tercapai tanpa keakraban dengan bentuk-bentuk dan keragaman-keragaman, dialektika, dan pada akhirnya dialog logis dan kesatuan wujud (wahdat al-wujûd). Pembahasan berdasarkan cinta kasih ini, dengan bantuan filsafat dan mistisisme, membukan jalan bagi pencapaian tujuan luhur ini. Dalam konteks filsafat dan mistisisme, batas-batas geografis, budaya, linguistik, dan perbedaan rasial, kondisi dan situasi sosio-ekonomi yang berbeda-beda, semua ini mendidik manusia, jauh dari menghancurkan pikiran kreatifnya.

Agama-agama Ilahi, yang memiliki karakteristik-karakteristik sublim ini, tidak pernah memaksakan diri mereka sendiri pada umat manusia. Sebaliknya, mereka secara konstan mengajukan persoalan-persoalan baru dan misterius yang telah memunculkan fitrah mencari-Tuhan pada manusia, mengilhaminya dengan pertanyaan filosofis dan, di saat yang sama, romantik. Agama berharap pada cinta dan akal manusia dan manusia mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan yang muncul, memetakannya pada fakultas mistis dan filosofisnya. Sesungguhnya agama menyediakan dialog paling logis sepanjang sejarah manusia, mengundang para pemikir dan peradaban besar pada suatu dialog timbal balik dengan tujuan mencapai kebenaran dan koeksistensi damai. Ini merupakan tujuan mulia, yang lama telah diabaikan di dunia nilai dan anti-nilai ini, ditundukkan pada hasrat-hasrat orang-orang tercela tertentu. Agama mengajari manusia bagaimana cara ia bisa mencapai tujuan ini dengan menemukan jawaban-jawaban logis atas pertanyaan-pertanyaan tentang eksistensi juga pemahaman akan posisinya di dunia keberadaan dan berperan serta dalam wacana global dan bersahabat.

Agama dan dua ajaran berharga lainnya, filsafat dan mistisisme, yang bersumber darinya, memberikan manusia kekuatan yang tidak pernah habis untuk meraih sumber murni eksistensi dan menantang diri hewani. Hasrat untuk meraih sumber eksistensi selaras dengan watak manusia, dan manusia telah diberi suatu perasaan cinta kasih yang tidak ia takuti dalam pencariannya. Ini bisa menjadi fondasi atas peradaban universal yang unik yang kepadanya manusia telah meramalkan secara tidak sabar, kendati pun sekarang ini manusia telah melupakan posisi sebenarnya di dunia keberadaan. Meskipun segala cinta, logika, dan nalar, meskipun fakta bahwa ia diharap berbuat sebagai citra Allah di muka bumi, manusia melakukan semua jenis kejahatan.6 Sekalipun mengalami peradaban-peradaban besar dalam sejarah dan sekalipun pengakuannya bahwa ia dapat beroleh keabadian dengan kembali pada watak aslinya, manusia kini ditundukkan pada sebuah dunia keragaman dan kontradiksi. Tidak adanya pengetahuan yang memadai, ia menganggap dunia ini sebagai tujuan akhir, dan menciptakan peperangan dan pertumpahan darah. Dengan kata lain, manusia tidak menghormati watak eksistensi yang manunggal, dan semua peperangan ini karena pikirannya yang picik.

Kebenaran itu adalah bahwa agama, akal, dan emosi, yang termanifestasi sebagai pengetahuan agama, filsafat dan mistisisme, mengajak manusia pada pemikiran logis berdasarkan pengertian dan cinta. Mereka memberi manusia dorongan untuk mengkritisi dan berjuang, yang masing-masing keduanya adalah penting untuk kreativitas secara pemikiran maupun praktis. Dengan menggunakan karunia-karunia berharga dari alam, manusia menciptakan peradaban. Peradaban bukanlah produk peperangan; peradaban adalah buah pemikiran, cinta, dan toleransi. Manusia mulai membangun sebuah peradaban saat ia mencoba menunjukkan kepada yang lain bahwa ia mempunyai suatu pikiran yang lebih kreatif, semangat mencari-yang ideal, dan perasaan nan halus. Peradaban, sesungguhnya, manifestasi dari kesempurnaan logis dan kasih sayang manusia.

Sebagai suatu pendekatan menuju kesempurnaan, mistisisme mengajukan pertanyaan-pertanyaan tentang alasan keberadaan manusia dan tujuan akhir manusia, jadi menginduksi pikiran manusia untuk mencari pengetahuan dan menggali kebenaran. Sebagaimana halnya filsafat, mistisisme —dengan menawarkan teori kesatuan wujud dan curahan cahaya permanen Tuhan atas makhluk— membina sebuah hubungan antara pencipta dan yang diciptakan seperti antara sumber cahaya dan cahaya yang ia pancarkan. Ia mengilhami pencari kebenaran untuk mulai melangkah di Jalan tersebut secara antusias.

Sebagaimana berkas sinar terpantul dari dari sumber cahaya ingin menyatu dengan sumber, maka demikian juga para pencari berusaha untuk kembali pada asalnya. Kesatuan wujud berkeyakinan bahwa hanya satu kebenaran dan sumber semua eksistensi, dan seluruh eksistensi merupakan manifestasi dari Wujud Tunggal (al-wujûd al-wahid al-haqq). Dialah kebenaran dan eksistensi mutlak dan kesempurnaan tergantung pada pencapaian pada-Nya dan bersama dengan-Nya. Ahli mistik menganggap eksistensi sebagai suatu kesatuan, sekalipun ia berbeda-beda.

Keragamana ini, demikian ahli mistik, merupakan manifestasi artistik dari eksistensi unik. Karena alasan ini, dambaan terhadap cahaya merupakan tujuan sentral dalam mistisisme. Cahaya melambangkan pengetahuan, sebagaimana pendapat kebanyakan ulama, tetapi pengetahuan ini berbeda dari semua jenis pengetahuan lain.7

Dengan mencapai jenis pengetahuan ini, secara mistis manusia dapat menyatukan kembali pertentangan lahir dan batinnya. Ini merupakan seruan dari watak Ilahinya, jalan yang sama yang Lao Tzu sebut Tao, yang meyakinkan bahwa setiap orang yang menapaki jalan alamiahnya, atau jalan fitrahnya, sebagaimana al-Quran nyatakan, akan mencapai kebenaran.8 Dalam konteks ini, dialog kasih sayang yang mistisisme adakan di antara manusia, fitrahnya, dan Tuhan amatlah penting. Dialog ini merupakan kisah pencapaian kesadaran manusia dan suatu eksistensi yang nyata dan permanen dengan mengetahui berbagai manifestasi eksistensi dan keragaman. Akan tetapi, di bawah kondisi apakah, manusia mungkin mampu mencapai pengetahuan ini?

Mistisisme mengundang pejalan spiritual pada suatu dialektika praktis dan suatu wacana persahabatan dan persetujuan, yang mengantarkan manusia pada kesatuan di dunia keberadaan. Berperan serta dalam dialog ini adalah dua aspek yang tampaknya berlawanan dari eksistensi manusia: cinta dan nalar, logika dan kasih sayang. Sesungguhnya, logika mistisisme adalah logika cinta, dan itu merupakan suatu pencarian dan gerakan untuk mencapai yang terbaik. Kesimpulan dari logika ini diturunkan dari ruh manusia, menyalakan api di dalam dirinya cahaya penyatuan, sehingga manusia dipenuhi dengan cinta kasih untuk mengetahui, mencari, dan merasakan kepuasan hakiki. Karena mistisisme menilai cinta dan gerakan sebagai substansi eksistensi.9

Mistisisme mengakui perbedaan dan kontradiksi karena ia meyakini bahwa perbedaan-perbedaan dan kontradiksi ini yang memungkinkan manusia untuk meraih pengetahuan dan kepuasan mencari kebenaran. Untuk mencapai kesatuan, orang harus melampaui keragaman-keragaman. Mistisisme hakiki menghormati kedudukan luhur manusia sebagai citra Tuhan di muka bumi, suatu prinsip yang harus dipertimbangkan dalam fondasi peradaban masa depan dunia juga dalam hubungan-hubungan sosial. Ia merupakan suatu prinsip bahwa agama dan sistem filsafat telah membenarkan, mendefinisikan manusia tidaklah egois, sombong, dan main-main melainkan sosok yang rendah hati, mencari-Tuhan, penuh wawasan, dan logis.

Mistisisme mengajari manusia bahwa keragaman di dunia eksistensi amatlah melimpah, namun mereka semuanya adalah berkas-berkas yang dipantulkan dari cahaya kebenaran. Kepercayaan monoteistik bahwa “tidak ada tuhan selain Allah” bukanlah khusus kepunyaan kaum Muslim. Para pengikut semua agama juga memegang teguh keyakinan ini, yang —dalam mistisisme— terefleksikan sebagai suatu kesatuan. Seseorang yang mengimani kesatuan ini hanya mencari satu hal: bersatu dengan sumber eksistensi yang tidak pernah-mati, atau logos, kata yang sering dipakai oleh umat Kristen.

Logos, atau “Manusia Sempurna” dalam mistisisme Islam, adalah seorang insan yang, berdasarkan keyakinan uniternya, menganggap tidak ada kredibilitas atas keragaman dan kontradiksi yang muncul. Kontradiksi-kontradiksi ini, menurutnya, hanyalah alat-alat pengetahuan, bukan agen kebanggaan diri. Ia memandang Allah sebagai fondasi kuat dari keberadaan yang kepada-Nya segala sesuatu kembali dan segala sesuatu adalah milik-Nya. Orang semacam ini niscaya mempunyai toleransi penting untuk menerima kebenaran dalam seluruh manifestasinya. Ia telah mencermati segala keragaman; ia hidup bersamanya, ia sendiri telah berubah menjadi suatu eksistensi keragaman tanpa tunduk kepada mereka. Sangatlah sulit untuk setia pada orang tertentu dan menghukumi mereka secara adil pada saat yang sama.

Sangatlah sukar untuk bersikap bijaksana dan mencintai. Manusia Sempurna adalah himpunan dari berbagai kontras dan ini merupakan prestasinya yang terbesar dalam pencariannya akan kesatuan.10 Lawan dari manusia sempurna adalah seorang dogmatis picik, yakni yang selalu dikutuk oleh agama, mistisisme, dan filsafat. Sesungguhnya, mistisisme bertujuan menghasilkan manusia yang berwawasan, logis, toleran, dan penuh cinta kasih. Ini merupakan dialektika yang paling indah dalam sejarah eksistensi, mengeluarkan manusia dari kontradiksi lahiriah dan batiniahnya pada ranah kedamaian dan pemahaman.

Mistisisme memandang manusia sebagai manifestasi mulia dari firman Ilahi atau logos.11 Mistisisme juga bertujuan memuliakan manusia, agar manusia —dengan memiliki sifat-sifat ketuhanan— ketika mendapatkan kehidupan dengan semua penderitaan dan kesedihannya bisa tabah dan kemudian menyadari akan tanggung jawabnya. Jadi, manusia dibebaskan dari kejahilan dan ketidakpedulian dan memulai —seperti halnya seorang nabi— suatu perjuangan yang berani yang maksud utamanya adalah menundukkan jiwa rendah dan berbuat baik pada sesama insan lainnya meskipun pada faktanya ia tahu akan kejahatan atau keburukan mereka. Karena alasan inilah Tuhan mengatakan bahwa toleransi termasuk di antara sifat terpenting dari semua nabi. Para nabi adalah orang-orang yang hidup di tengah-tengah ketakpedulian dan keragaman yang tak seorang pun mempunyai keberanian dan pengetahuan untuk mencari kesatuan dan mengajak yang lainnya untuk berbuat demikian secara baik dan penuh kasih.

Apabila kita melihat alam dan di kehidupan liar, kita tahu bahwa semua binatang bergerak menuju kesempurnaan. Ini menjadi mungkin dengan petunjuk batin. Akan tetapi, kesempurnaan ini tergantung pada prinsip survival of the fittest (yang terkuatlah yang bertahan). Namun lagi, bisakah ini menjadi suatu prinsip yang memandu dalam kehidupan manusia juga? Apakah hidup secara fisik tujuan akhir dari kehidupan manusia atau adakah suatu tujuan lebih sublim? Kemuliaan manusia demikian sublim sehingga ia tidak akan menyerahkan semua pemikiran dan cinta, memilih untuk berjuang sebagai satu-satunya sarana untuk bertahan. Sekalipun berbagai kelompok dan orang-orang telah mengungkapkan pelbagai opini tentang sarana-sarana untuk mencapai kedamaian dan pemahaman, keragaman itu sendiri tidak akan mengarah pada peperangan. Keragaman dari setiap jenisnya tidak akan pernah menjadi suatu pembenaran atas perjuangan apapun. Sesungguhnya, keragaman dari agama-agama, mazhab-mazhab mistis dan filosofis merupakan suatu ornamen dari dunia eksistensi, yang jika tidak ada, dunia akan menjadi hampa dan gelap.

Sekarang kami sajikan suatu pendekatan filsafat atas pertanyaan mengenai dialog peradaban. Dalam pandangan Hegel, dialektika merupakan hasil pemikiran yang membenarkan evolusi wujud. Senyatanya Ide Mutlak bergerak menuju kesempurnaan internal; yakni, ia sendiri menafikan untuk kembali pada diri dan dengan pengayaan konflik ini mendapatkan keadaan sempurnanya. Tidak seperti dualismenya Plato dan dialektika-dialektika tidak sempurna, konsepnya Hegel tentang dialektika adalah ternary dan pada gilirannya sempurna. Setiap definisi merujuk pada lawannya dan pada akhirnya diubah dalam konflik lain. Dalam suatu pengertian tak langsung dan umum, dialektika merupakan kemajuan pikiran dari keadaan sekarang menuju yang lebih baik untuk mencapai keadaan berkembang. Dalam madah lain, dialektika dan hasil-hasil terbesarnya, adalah argumen dan pemikiran dalam mencari suatu pilihan yang lebih baik dan berkembang menuju suatu keadaan lebih baik. Dialektika merupakan suatu gerakan dinamis yang memudahkan manusia untuk mengenal dan meredam konflik dan mencari kebenaran yang satu, tidak dengan perang, tetapi melalui dialog yang logis, penuh kedamaian, dan epistemologis. Itulah sebab mengapa dialektika telah diterjemahkan ke dalam bahasa Persia sebagai “mengembarakan pikiran” (“journeying of the mind”), yakni kemajuan yang sadar dan kritis menuju kebenaran. Inilah bagaimana dialektika —lahir dari logos atau logika— menggunakan jalan dialog, yakni ucapan yang kritis dan arif, untuk memahami nilai dari semangat transendental di antara himpunan konflik, yang kadang-kadang harmonis dan kadang-kadang dalam kesulitan.

Dialektika filsafat dan manusia sempurna, yang kedua-duanya menekankan pencapaian pengetahuan akan kontradiksi dan keragaman melalui penyatuan dengan sumber eksistensi yang hakiki, mengajarkan kepada manusia bahwa kesatuan merupakan tujuan ultimat dari eksistensi. Jadi, semuanya itu memberanikannya untuk menanggung kesulitan-kesulitan dan rasa frustrasi, membekalinya untuk suatu perjuangan yang berani menghadapi diri yang rendah. Mereka meluluhlantakkan arogansi manusia sehingga ia akan menemukan hasrat untuk tahu. Mulla Shadra Syirazi (w. 1641) menyatakan dalam karya berharganya “Empat Perjalanan” (“Al-Asfar al-Arba‘ah”):

Sifat-sifat berlawanan seperti kehitaman dan keputihan, rasa pahit dan rasa manis, derita dan bahagia mungkin tidak menyatu dalam satu entitas yang tunggal karena batasan-batasan kapasitasnya. Namun watak manusia sebagai suatu entitas uniter merupakan himpunan dari berbagai kontradiksi. Semakin manusia menjauh dari materialisme, semakin baik kemampuannya untuk menyatukan kontradiksi-kontradiksi tersebut.12

Filsafat juga menghadirkan dialog yang diwujudkan melalui dialektika, membekali manusia dengan pengetahuan yang memberinya toleransi dan perhatian. Keragaman di dunia laksana warna-warni pelangi yang disebarkan dengan sebuah prisma. Dalam baitnya penyair Sufi (w.1492) menyatakan:

Makhluk-makhluk bak serpihan gelas

Yang di atasnya jatuhlah sinar mentari eksistensi

Setiap serpihan gelas, merah, kuning, atau gelap

Dipantulkan oleh mentari dalam warna yang sama

Semua sarjana yang menyelidiki pluralisme berpendapat bahwa filsafat adalah produk dari keragaman agama, yakni berwatak pluralistik juga. Sebuah peradaban, yang didasarkan pada pemikiran semacam itu, mesti memanifestasikan dirinya sendiri dalam berbagai bentuk, kadang-kadang dalam bentuk peradaban Iran dan Mesir, kadang-kadang dalam bentuk peradaban India dan Cina, dan kadang-kadang dalam bentuk peradaban Yunani dan Roma. Akan tetapi, kebenaran di balik semua ini adalah kekuatan unik manusia hidup lebih baik tergantung pada dialog-dialog logis dan diskusi-diskusi yang bersahabat.

Filsafat mengajarkan manusia untuk berpikir. Sebenarnya, dialektika bertujuan mendamaikan kontras yang beraneka warna dan (cenderung) menipu ini. Ia merupakan kisah pelintasan keragaman untuk mencapai kesatuan, kisah naiknya para pengembara yang menemukan dunia suatu himpunan manifestasi kebenaran unik, yang satu menyebut-Nya Tuhan, satu lagi Roh Dunia, yang lain Nirwana, satunya lagi Ahura Mazda, dan yang lainnya Dainichi Nyorai. Tidaklah penting bagaimana Anda mencapai tujuan ini. Yang penting adalah tindakan pencapaian itu sendiri. Peradaban-peradaban besar itu telah minum dari sumber yang sama. Agama-agama menjadi beragam. Ada pelbagai mazhab mistis dan filosofis. Namun semua ini tidak dapat membenarkan keunggulan satu kelompok atas kelompok yang lain dan tidak akan memberikan pembenaran apa pun untuk kejahatan. Ini merupakan hukum eksistensi dan mesti seperti itu.

Seni dari seorang seniman terletak pada perkembangannya dalam pertunjukan warna-warna. Sekiranya ia hanya menggunakan satu warna saja, ia tidak akan bisa mengklaim bahwa ia seorang seniman. Peradaban-peradaban yang beraneka dilahirkan dan dibesarkan dalam pelbagai wilayah geografis. Karena berbagai alasan historis dan batasan-batasan geografis, peradaban-peradaban tersebut tidak bisa berkembang di bawah kondisi yang sama. Menurut al-Quran, perbedaan dalam warna, bahasa, dan pemikiran menyiapkan suatu sarana untuk saling mengenal lebih baik (QS. Al-Hujurat [49]:13). Jadi, semua keragaman di bidang apapun merupakan produk dari pengalaman berbagai kelompok manusia di bawah kondisi yang berbeda-beda.

Dengan kata lain, perbedaan-perbedaan pendapat dan pandangan hasil dari berbagai kondisi sosial, geografis, dan kebudayaan, yang telah membentuk pengalaman. Karena alasan inilah perbedaan dan pluralitas tersebut tidak hanya akan mencegah persaingan destruktif di antara manusia melainkan membantu manusia menarik suatu gambaran kebenaran yang lebih sempurna. Hanya karena seorang Yahudi menyebut Tuhan Yahweh, seorang Kristen memanggil Tuhan Bapak, dan Muslim Allah, tidaklah berarti bahwa satu agama lebih unggul ketimbang yang lain. Filsafat meminta manusia untuk bersikap toleran, sehingga ia bisa memikul pertentangan-pertentangan dan bahkan ketidakramahan, dan ia sendiri bisa berubah menjadi serangkaian pertentangan. Ini merupakan satu-satunya jalan agar ia bisa meraih suatu kebenaran yang lebih mendalam dari apa yang ia dengar dan lihat. Filsafat mengajarkan toleransi melalui dialog-dialog logis. Pendekatan yang filsafat sajikan mengarah pada peradaban masa depan yang unik, suatu peradaban yang di dalamnya manusia tidak berjuang demi kelangsungan kehidupan, namun menggunakan segenap pengetahuan mereka, yang merupakan warisan yang dibagi dari seluruh manusia, untuk menghidupkan sebuah kehidupan yang manusia layak untuk hidup. Ini akan menjadi sebuah keberadaan manusia dalam arti sejati dari kata tersebut; menikmati suatu dinamika akal dan hati yang telah mengalami spiritualitas dan iman sehingga ia bisa melampaui kerangkeng pluralitas dan pengulangan, menghadirkan sebuah eksistensi uniter seraya merefleksikan pertentangan-pertentangan.

Secara umum, siapa pun bisa mengatakan bahwa karena peradaban-peradaban merupakan produk dari usaha kreatif manusia di bidang agama, pemikiran dan cinta, maka mereka merupakan bukti dari keberadaannya sebagai manusia. Dengan menemukan faktor-faktor umum yang telah memengaruhi akal dan emosi manusia —dengan mengabaikan agama, kebangsaan, bahasa, dan rasnya, dan tergantung pada fitrah pencarian-Tuhan dari manusia meskipun semua perbedaan bukti dan pertentangan yang tampak— permusuhan akan berubah menjadi persahabatan melalui dialog-dialog. Perbedaan-perbedaan akan berubah menjadi sarana-sarana mencapai kesempurnaan dan pengertian. Dalam konteks ini, setiap peradaban, seraya memelihara identitasnya sendiri, bisa mendapatkan manfaat dari kualitas-kualitas dan pandangan-pandangan dari peradaban lain. Sebagaimana mereka katakan, kebenaran dapat ditemukan di mana-mana, kadang-kadang di bawah pohon ara, kadang-kadang dalam cermin air, terkadang di puncak gunung, kadang-kadang di dalam gua yang gelap. Untuk menemukan kebenaran, Anda harus mempunyai hasrat untuk mengetahuinya.

Manusia yang agama lukiskan sebagai sempurna adalah hina, baik, dan mencari-Tuhan, suatu paduan dari pelbagai pertentangan. Jika manusia bertindak berdasarkan teladan luhur yang agama —dan pada gilirannya yang disajikan oleh aliran-aliran filsafat dan mistis asli— tak syak lagi niscaya ia mempunyai suatu kehidupan yang lebih baik ketimbang yang ia miliki sekarang. Manusia modern telah mengambil keuntungan dari segenap kontradiksi dan keragaman tersebut untuk menciptakan peperangan yang liar. Apa yang manusia maksudkan untuk dicapai adalah merevolusi di dalam, menjauh dari antroposentrisme (manusia sebagai pusat) menuju teosentrisme (Tuhan sebagai pusat). Manusia yang menyadari status hakikinya dalam eksistensi dan melakukan segala upaya untuk mencapai kebenaran dalam semangat mistis dan filosofis, maka dialah pemenang sejati.

Meskipun pengetahuan disertai dengan penderitaan, namun dengan bergantung pada pemahaman orang bisa menahan semua derita dan dan menciptakan masa depan yang cerah. Setiap peradaban, kendati berbeda satu sama lain, memberikan suatu rangkaian yang andal yang melaluinya manusia bisa mengetahui ideal-idealnya. Hasrat yang ideal kadang-kadang telah terwujud di barat, kadang-kadang di timur, kadang-kadang di Islam, kadang pada agama Yahudi, Kristen, Buddha. Platonisme, Neoplatonisme, eksistensialisme, hermeneutik, fundamentalisme, masing-masing pada gilirannya telah memasuki diskusi dalam dialog historis dan intelektual manusia. Apa yang penting adalah bahwa semua pendekatan ini menuju pada kebenaran yang sama yang di bawah bayangannya manusia akan memiliki kehidupan yang lebih baik. Suatu kebenaran yang selalu manusia temukan dalam misi pencariannya.

Kesimpulan

Bahwa manusia modern tidak mampu untuk menciptakan peradaban-peradaban besar adalah karena ia telah melupakan status hakikinya dalam penciptaan. Ia telah melupakan apa sarana-sarana berharga yang telah ia miliki dalam kekuatannya untuk mencapai kesempurnaan, apa tujuannya, bagaimana berpikir, bagaimana berbicara, bagaimana mencinta. Nalar, logika, dan cintanya telah tunduk pada tipu daya dan kejahatan, dan hidupnya tidak lagi menghirup cinta dan keimanan. Tampaknya Allah telah meninggalkan dunia yang gelap yang telah diciptakan bagi Dirinya Sendiri. Manusia yang tidak mengenal jalan atau tujuan tersebut, yang tidak punya perbekalan, niscaya akan tersesat sehingga ia tak mampu menciptakan apa pun, sebagaimana yang dilakukan oleh para pendahulunya yang kreatif. Sejarah telah datang mengakhirinya. Dengan menyalakan halaman-halaman sejarah yang kemilau, ia tidak menemukan apa pun yang berharga. Semua yang ia lihat adalah peperangan dan pelanggaran HAM. Pertentangan-pertentangan adalah agen-agen permusuhan, bukan pengetahuan dan cinta kasih. Pengetahuan telah digantikan dengan kejahilan dan prasangka dan ‘menjadi manusia’ telah menemukan pemahaman mitologis dan tak dapat dicapai, yang merupakan satu-satunya yang ditemukan dalam kisah-kisah pengantar tidur anak-anak.

Dunia, yang dimaksudkan sebagai sarana untuk kesempurnaan dan perkembangan spiritual manusia, telah berubah menjadi tempat pemakaman spiritualitas. Nabi-nabi Tuhan, peradaban-peradaban besar, para mistik dan filosof besar telah saling meminjamkan; tidak hanya mereka saling ‘berperang’, namun telah membawa pesan-pesan cinta dan pemahaman. Mereka telah merasakan toleransi dan penalaran dan telah senantiasa mendorong manusia untuk mengambil satu langkah ke depan.

Kebutuhan paling penting manusia pada abad ke-21 ini adalah peradaban yang didasarkan keimanan. Dalam suatu dialektika yang komprehensif, manusia telah mengambil sikap kritis terhadap kehidupannya dan dunia di sekitarnya, secara kritis telah menjelajahi cinta dan akal, dan telah menemukan keberanian untuk berperan serta dalam meja bundar terbesar dalam sejarah. Jadi, ia harus bersiap-siap memberikan jawaban-jawaban atas persoalan-persoalan penting dan mendasar, memulai suatu era pencerahan baru dalam sejarah dengan mengakhiri era kejahilan. Era modern adalah era pembelajaran dan pengajaran, era di mana manusia dahaga akan keimanan, suatu keimanan yang akan membebaskannya dari derita kehidupan dan kejenuhan rutinitas. Untuk memulai era ini, manusia harus mengenal status manusianya yang hakiki, bahwa ia tidak bisa mencapai pengetahuan akan diri hakikinya tanpa keimanan dan kejujuran. Ia harus kembali pada fitrah aslinya sendiri, yang merupakan manifestasi dari mistisisme dan filsafat yang dibangun dengan dialektika agama dan dialog besarnya. Bahasa dialektika ini merupakan bahasa yang sangat dinamis yang dengannya manusia naik pada status mulianya. Karena alasan-alasan itu para nabi pun adalah manusia juga.

Mungkin saja menjadi manusia saat ini sekaligus menjadi kehidupan bak seorang nabi. Para nabi menjadikan kenabian sebagai misi untuk setiap individu yang berpikir bebas. Ia menuntut suatu perjuangan artistik, suatu pemahaman revolusioner yang mendorong manusia pada kesempurnaan. Bukankah hal yang mendasar pada diri manusia adalah mencari? Merasa sebagai seorang nabi dan telah disemati dengan sebuah misi akan melahirkan perubahan besar dalam sikap manusia modern.

Kita mesti tahu bahwa paganisme bukanlah sebuah nama untuk periode sejarah tertentu. Kita tidak dapat mengatakan bahwa masa itu sudah selesai. Hari ini kita menyaksikan suatu paganisme modern dengan corak yang sangat menipu dan menindas. Sekarang ini kita mesti mengetahuinya dan secara berani memeranginya dalam segenap bentuk dan coraknya.

Para nabi yang notabene manusia harus —berdasarkan iman, cinta, dan pemikiran— menciptakan peradaban besar dan mewujudkan janji agama, yang merupakan tujuan ultimat sejarah. Ini merupakan usaha sadar manusia untuk meraih kesempurnaan sebagaimana dilukiskan oleh agama. Yang penting adalah sekalipun pandangan-pandangan kita akan agama, filsafat, mistisisme, dan peradaban-peradaban berdasarkan mereka (para nabi), mereka semua berbagi sebuah gagasan dan itu adalah hubungan antara Tuhan dan manusia untuk mencapai kesempurnaan dan kebenaran eksistensi. Dialog logis dan diskusi intelektual memberikan peradaban manusia kemungkinan untuk mengetahui kontradiksi-kontradiksi yang bebas dari kebencian dan merasakan suatu kehidupan yang bahagia dan mulia.

Untuk melakukan ini, mereka niscaya bersandar pada kepekaan kritis mereka dan cinta kasih mereka pada sesama manusia. Ini merupakan rangkaian perbuatan manusia di masa depan untuk membangun sebuah peradaban universal dalam naungan logika, cinta, dan pemahaman. Meskipun semua kekurangan itu ada, manusia modern mengenal dengan baik bahwa kafilah peradaban manusia tidak akan ke mana-mana jika disimpangkan dari proses ini. Karena itu kita harus berusaha sebaik-baiknya untuk menampilkan kebahagiaan dan memajukan kesejahteraan pada masa depan sebagai suatu hadiah. Cerita Jalal Al-Din Rumi (w.1274) berikut menggambarkan pemikiran filosofis dan mistis dengan cara yang indah:

Orang Hindu telah menempatkan seekor gajah

Dalam suatu ruangan yang amat gelap

Banyak orang datang untuk merabanya,

Mereka penuh rasa ingin tahu

Orang pertama meraba pada belalainya,

“Ia seperti pipa air,” katanya

Tangan yang lain memegang telinganya,

“Tidak, ia seperti kipas angin,”

Orang ketiga berteriak, “Ini adalah tiang.”

Seraya memegang kaki hingga ke lutut.

Berkata orang keempat, ketika meraba punggungnya,

“Ini singgasana, aku pasti tidak setuju!”

Masing-masing menggambarkan bagian yang ia sentuh

Tak satu pun bisa melihat gajah itu secara utuh,
Seandainya masing-masing memegang lilin,

Niscaya mereka akan bersepakat.17 []

Catatan:

1. Mulla Shadra Syirazi, al-Hikmah al-Muta‘aliyah fî al-Asfâr al-‘Aqliyyah al-Arba‘ah, ed. R. Luthfî et. al, Beirut: Dar Ihya’ al-Turat al-‘Arabî 1981, jil. 9, h.79.

2. C. Taylor, Hegel, Cambridge: Cambridge University Press 1975.

3. Ash‘arites and Mu‘tazilites dalam the Routledge Encyclopaedia of Philosophy, gen. ed. E. Craig, London: Routledge 1998.

4. T. Irwin, Classical Thought, Oxford: Oxford University Press 1996, hh. 98-101.

5. Setidaknya, ini yang sebenarnya untuk kata Arab ‘aql.

6. Karena manusia dalam agama Ibrahimik diciptakan dalam citra Tuhan dan merupakan khalifah-Nya di muka bumi.

7. Tentang cahaya mistisisme dalam Islam, lihat A. Schimmel, Mystical Dimensions of Islam, Chapel Hill: University of North Carolina Press 1975, inter alia hh. 259-63.

8. T. Izutsu, Sufism and Taoism, Berkeley: University of California Press 1986; S. Murata, The Tao of Islam, Albany: State University of New York Press 1992, hh. 6-17.

9. Schimmel, Mystical Dimensions of Islam, hh. 130-41.

10. Reynold A. Nicholson, Studies in Islamic Mysticism, Cambridge: Cambridge University Press 1928; Schimmel, Mystical Dimensions of Islam, hh. 280-2.

11. Mulla Shadra Syirazi, al-Asfâr al-Arba‘ah, jil. 7, hh. 181-3, jil. 8, h.140.

12. Ibid., jil. 7, h. 20.

13. Ibid., jil. 7, h. 74; jil. 7, h. 70; jil. 9, h.90-105.

14. Ini merupakan perumpamaan kaum Buddha yang terkenal yang dikisahkan kembali oleh penyair-Sufi Persia yang agung, Rumi, dalam Matsnawî-nya.

(Diterjemahkan oleh Arif Mulyadi dari “Philosophical and Mystical Approaches to the Dialogue of Civilizations” dalam Transcendent Philosophy, Vol 3, No 1, Maret 2002)

About these ads

4 thoughts on “Pendekatan Filosofis dan Mistis terhadap Dialog Peradaban

  1. Ruby Afsa mengatakan:

    Terimakasih Informasinya. Blog/Web ini memang Luarbiasa. Semoga Menjadi yang terbaik.
    Salam kenal dari:Ruby Afsa

  2. [...] Pendekatan Filosofis dan Mistis terhadap Dialog Peradaban [...]

  3. arif mulyadi mengatakan:

    Terima kasih telah melink blog ini.

  4. kusnadi mengatakan:

    sungguh luar biasa, semoga bisa bermanfaat bagi yang membacanya.
    terimakasih

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s