AA: Aku lagi ikut seminar “Membangun Bangsa Melalui Pendidikan Hati” dengan pembicara dari Thailand, Dr Junsai. Mungkin dapat kusimpulkan dalam pendidikan hati, puncak perjalanan adalah kukuhnya fungsi intuisi (sesuatu yang sangat terasa dimensi mistiknya). Nah, hebatnya mereka sudah menerapkan prinsip-prinsipnya sejak pendidikan dasar. Mungkin seperti pertanyaan anak-anak kuajukan: “Bagaimanakah membuat sekolah yang menyiapkan lahirnya Ibnu Arabi (atau Imam Khomeini)?” atau “Mungkinkah (sesungguhnya aku ingin mengatakan harus) kita merancang kurikulum ’sejarah masa depan’ para pemuncak ilmu dan kemuliaan sampai ke tataran pendidikan dasar dan model parenting (peran ortu dalam pendidikan)?” (Sms A Ipin, 15-4-2008; 14:20:03)
Responku: Dua pertanyaan terakhir ini yang justru sedang kucari jawabnya. Aku melihat dua hal di sini: pembiasaan (ini kebanyakan orang) dan talenta (given by God). Dalam kasus Ibn Arabi dan Imam Khomeini agaknya talenta mereka yang banyak berperan.
AA: Psikolog Harvard, Jerome Kagan, menuturkan bahwa seorang anak bagaikan sepotong kain abu-abu pucat: benang hitam genetika dijalin dengan benang putih lingkungan untuk menghasilkan kain yang tidak memperlihatkan salah satu warna benang. Menurutku, antara nature dan nurture, dalam perspektif keadilan Ilahi, adalah “kain abu-abu pucat” itu, sehingga manusia berdiri dengan kemungkinan, berhadapan dengan pilihan. Demikianlah, maka free will pun bersifat aksiomatis bagi moralitas. Bagiku, kesalahan jika membandingkan prestasi spiritual (atau prestasi apa pun) kemudian mengatakan bahwa yang satu lebih besar talentanya dibandingkan yang lain. Kepastian dari nature dan nurture adalah keberagaman, bahkan keunikan per individu. Bahkan ketika keduanya berinteraksi sejak pembuahan, keunikan individu berubah terus sepanjang hayat, berubah dengan ketetapan dalam keunikannya, sehingga sebuah hadis mengatakan jalan menuju Tuhan sebanyak tarikah nafas umat manusia.
Permalink
Tidak ada Komentar
Kata “tajali” (Ar.: tajalli) merupakan istilah tasawuf yang berarti ”penampakan diri Tuhan yang bersifat absolut dalam bentuk alam yang bersifat terbatas. Istilah ini berasal dari kata tajalla atau yatajalla, yang artinya “menyatakan diri”.
Konsep tajali beranjak dari pandangan bahwa Allah Swt dalam kesendirian-Nya (sebelum ada alam) ingin melihat diri-Nya di luar diri-Nya. Karena itu, dijadikan-Nya alam ini. Dengan demikian, alam ini merupakan cermin bagi Allah Swt. Ketika Ia ingin melihat diri-Nya, Ia melihat pada alam. Dalam versi lain diterangkan bahwa Tuhan berkehendak untuk diketahui, maka Ia pun menampakkan Diri-Nya dalam bentuk tajali. Baca entri selengkapnya »
Permalink
& Komentar
Abstrak
Tulisan ini diambil dari bab kedua tesis yang sedang saya susun yang bertajuk “Akhlak dalam Perspektif Irfan Ibn ‘Arabi”. Bab II menceritakan riwayat hidup dari Ibn ‘Arabi. Alih-alih, menceritakannya secara historis, tulisan ini lebih menitikberatkan spiritualitas dari Ibn ‘Arabi sendiri. Mohon doa dari pembaca agar tesis saya segera rampung.
DI KALANGAN para sufi ada tradisi membaca manaqib. Tradisi ini sebenarnya sangat berpengaruh dalam perjalanan dan perkembangan spiritual para murid dan salik. Manaqib adalah semacam biografi yang menceritakan tentang jalan hidup seorang guru. Tetapi ia bukan sekadar biografi yang hanya mencatat tentang tempat lahir, tanggal lahir, dan hal-hal yang berelasi dengan guru secara historis. Lebih dari itu, sesungguhnya manaqib adalah catatan kehidupan spiritual seorang guru, yang bisa mempengaruhi murid dalam menghidupkan orientasi spiritual di dalam diri mereka dan meningkatkan aspirasi mereka untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. Tujuan membaca manaqib, misalnya, adalah memberi kesadaran kepada para murid bahwa bertemu dengan Allah (liqa’ Allah) adalah satu kenyataan dan semua manusia bisa bertemu dengan Yang Mahatunggal. Baca entri selengkapnya »
Permalink
Tidak ada Komentar
Dina dinten Jumaah, ping 4 April 2008, pun paman nu wastanya Drs Adjat Sakri, MSc ngantunkeun di Bandung. Sim kuring nampi wartos ieu ti pun lanceuk nu calik di Tanjung Priok, Jakarta Utara. Sanaos sacara emosional teu caket, sim kuring ngaraos sedih nguping wartos kapapatenan ieu.
Upami ngemut kapengker, sim kuring ngaraos kahutangan budi margi anjeunna tos ngiring ngalancarkeun kuliah sim kuring. Tegesna, anjeunna ngiring mantosan ngawaragadan kuliah sim kuring di Fikom UNPAD. Sanaos sakedik, namun sayaktosna waragad ti anjeunna teh kaetang mangpaat pisan.
Aya cariosan nu masih keneh kakuping ku sim kuring ti anjeunna: “Keluarga besar teh munafik. Ongkoh iman kepada Allah, tapi teu iman kana kawasa-Na.” Hemeng! Meureun ieu kitu pirasat jelema nu rek maot?
Duh Gusti, mugi Anjeun ngahapunten kana sadaya kalepatan pun emang!
Permalink
Tidak ada Komentar
Abstrak
Tulisan ini bertujuan untuk memberikan bukti tekstual dalam mendukung kecenderungan Syiah dalam Tasawuf Rumi yang diambil dari Matsnawi. Syi’isme, dalam bentuk hakikinya, percaya pada wilayah (otoritas) Imam Ali dan sebelas imam dari keturunannya, menyusul mangkatnya Nabi Muhammad saw. Allah telah memilih Ali dan keturunannya, sebagai penerus kerohanian dan keagamaan yang sejati dari Nabi Muhammad saw, yang setelahnya akan senantiasa ada seorang wakil dari keluarga Ali untuk membimbing dan memimpin manusia. Tulisan ini membahas tiga jenis wilayah: matahari, bulan, dan bintang.
Seyed G. Safavi
Interpretasi atas teks Matsnawi melalui teknis riset ‘konseptual,’ ‘sinoptis,’ dan ‘lingkaran ‘hermeneutik’ memperjelas bahwa Maulana Jalaluddin Rumi menghormati kedudukan dan jabatan Imamah yakni otoritas, wilayah Allah, Nabi Muhammad saw, dan dua belas penerusnya yang ditunjuk oleh Allah. Dalam konteks ini, Maulana memfokuskan pada wilayah Imam Ali, penerus Nabi Muhammad saw yang pertama.
Menurut Dr. Shahram Pazouki:
Maulawi (Rumi) adalah seorang Syiah, bukan dalam arti yang dipakai oleh fukaha atau teolog dialektis sekarang, tetapi dalam makna sebenarnya, yakni Allah hanya menunjuk wali, percaya pada kesinambungan spiritualitas dan walayah Nabi Muhammad saw dalam pribadi Imam Ali dan putranya yang ditunjuk oleh Allah. Allah menunjuk Ali sebagai penerus kerohanian dan wali sepeninggal Nabi Muhammad saw dan percaya bahwa setelah Nabi senantiasa ada pembimbing spiritual, wali, dari keluarga Imam Ali dalam kafilah cinta. Maka, di sini ada perbedaan antara Syiah Spiritual dan Syiah Fikih. Baca entri selengkapnya »
Permalink
Tidak ada Komentar

Tampaknya memiliki lemari es (sering disebut kulkas) untuk masyarakat modern bukanlah suatu hal yang mewah. Boleh dibilang lemari es sudah sama kedudukannya dengan makanan atau minuman. Ia bisa dijangkau dengan harga yang relatif murah dan bisa dicicil lagi.
Tapi hal yang sama rupanya tak dijumpai bagi Heru Cokro. Sudah lama ia dan istrinya mengidamkan sebuah lemari es. Bukan karena tetangga sudah memilikinya dan ia ikut-ikutan ingin memilikinya. Tidak begitu. Sebetulnya Heru sudah merasakan manfaat kulkas itu ketika ia masih tinggal di kontrakan. Ia bisa dengan cepat sarapan karena istrinya tinggal ngangetin masakan saja. Namun, karena satu dan lain hal akhirnya lemari es itu tinggal kenangan. Baca entri selengkapnya »
Permalink
Tidak ada Komentar
Sayyid Husain Waizi
KETERPAUTAN jiwa pada tubuh, menyangkut eksistensi dan individuasinya (tasyakhhus), merupakan keterikatan sementara dan bukan urutan subsisten. Pada tahapan perwujudan awalnya, dan sekaitan dengan asal-usul temporal, jiwa tergantung pada materi, dalam urutan selanjutnya, melampaui semua ketergantungan tersebut.
Semula, jiwa menyerupai fakultas-fakultas lain yang merupakan watak materi, dan tergantung kepadanya —suatu bentuk materi yang samar dan tak dapat dispesifikasi, yakni tubuh itu sendiri. Kendatipun tubuh ini mengalami perubahan dan transformasi sepanjang masa hidupnya, jiwa senantiasa terikat pada tubuh yang tidak menentu dan samar ini. Yakni, sekaitan dengan jiwa, manusia mempunyai kepribadian tunggal, yang berlawanan dengan tubuh dari jiwa, yang tidak identik, dalam suatu perubahan dan transformasi konstan. Baca entri selengkapnya »
Permalink
1 Komentar

The philosophical world-view of Ibn Arabi is a world-view of self-manifestation (tajjali), for as long as the Absolute remains in its absoluteness there can be nothing in existence that may be called the ‘world’, and the word ‘world-view’ itself would lose all meaning in the absence of the world.
On the world’s side, the principle of tajalli is the ‘preparedness’ (or ontological aptitude), and the same principle of tajalli from the standpoint of the Absolute is constituted by the Divine Names. Baca entri selengkapnya »
Permalink
Tidak ada Komentar

According to Ibn ‘Arabi, “The world is the shadow of the Absolute”. The world, as the shadow of the Absolute, is the latter’s form, but it is a degree lower than the latter.
He said, “Know that what is generally said to be ‘other than the Absolute’ or the so-called ‘world’, is in relation to the Absolute comparable to shadow in relation to the person. The world in this sense is the ‘shadow’ of God.
In Ibn ‘Arabi’s thought, there is nothing other than the Absolute. This statement is not merely a popular expression, because it has some reason as well. Philosophically or theologically, the world is a concrete phenomenal form of the Divine Names, and the Divine Names are in a certain sense opposed to the Divine Essence. The world is surely ‘other than the Absolute’. Baca entri selengkapnya »
Permalink
Tidak ada Komentar
Urain ontologis Ibn ‘Arabi tentang wujud dan ‘adam dalam karyanya Insya’ ad-Dawâir perlu dipaparkan di sini. Bagi Ibn ‘Arabi, wujud dan ‘adam bukan suatu tambahan terhadap mawjud (selanjutnya, maujud, yang ada yang berwujud) dan ma’dum (yang tiada, yang tidak berwujud), tetapi sama dengan maujud dan ma’dum itu sendiri. Ia menolak bayangan atau anggapan estimasi (waham) bahwa wujud dan ‘adam adalah sifat yang melekat pada maujud dan ma’dum. Ia mengibaratkan wujud menurut anggapan estimasi ini dengan sebuah rumah. Sesuatu baru ada wujudnya apabila ia masuk ke dalam rumah wujud. Jika tidak, ia tidak mempunyai wujud. Wujud dalam pengertian ini, menurut Ibn ‘Arabi, adalah penegasan entitas (’ayn) sesuatu dan ‘adam adalah penafiannya. Inilah pengertian pertama tentang wujud. Baca entri selengkapnya »
Permalink
Tidak ada Komentar