Muhasabah (I): Memeriksa Kata Hati
Praktik umum yang dijalankan dalam tasawuf ketika memulai khalwat adalah menguji kesadaran, atau yang dinamakan muhasabah. Ia merupakan proses pemeriksaan batin yang saksama, yang menuntut tingkat kejujuran yang tinggi. Meskipun sulit sekali–dan orang harus sangat hati-hati karena pikiran dapat begitu cerdik dalam mempermainkan dan membuat-buta pembenaran (rasionalisasi)–itu satu-satunya cara untuk menemukan diri sendiri yang sejati.
Kita bisa memulai proses ini dengan melangkah mundur dari kehidupan kita dan mengamati keadaan yang melibatkan diri kita sekarang–hubungan kita dengan orang-orang, pekerjaan, rumah, dan komunitas sosial yang lebih luas. Sediakan waktu untuk memeriksa motif-motif yang menyertai keterlibatan diri kita dalam aktivitas-aktivitas tertentu; selamilah harapan-harapan kita terhadap orang-orang tertentu; tanyakan mengapa kita memprakarsai cara-cara tertentu dalam bertindak.
Setelah mengamati dengan cermat tindakan-tindakan dan keterlibatan-keterlibatan kita dalam kehidupan pribadi, langkah kedua adalah memeriksa tujuan keseluruhan kita dalam hidup. Kemana energi kita disalurkan? Apakah cita-cita kita? Apakah kita hidup sesuai dengan cita-cita itu? Semua ini adalah pertanyaan-pertanyaan besar yang mungkin tidak dapat kita ketahui jawabannya dengan segera. Bahkan pertanyaan-pertanyaan itu mungkin muncul dengan cara yang lebih wajar selama meditasi, yang akan dibahas kemudian.
OBAT JIWA
SALAH satu tujuan dasar melatih jiwa adalah menghasilkan keseimbangan yang sehat dari masing-masing jiwa dan di antara jiwa-jiwa tersebut. Prinsip moral dan etika serta ajaran-ajaran dari kelompok sufi bertujuan memberikan jalan tengah. Yakni, disiplin diri, yang mendukung tujuan ini.
Sufi berusaha menghindari sikap berlebihan dalam kehidupan, baik itu menolak asketisisme ataupun kecanduan akan kesenangan dan materialisme. Praktik keagamaan dan spiritual ditujukan sebagai pendukung, bukan sebagai beban yang berat. Contohnya, berpuasa tidak diwajibkan jika kita dalam keadaan sakit atau sedang melakukan perjalanan. Kita dapat mengganti hari puasa yang ditinggalkan pada saat kita dalam keadaan sehat dan menjalani kehidupan rutin yang normal. Baca entri selengkapnya »
Relasi Shalat Nafilah dan Wujud Tambahan
Ketahuilah, bahwa jika engkau terus menerus menunaikan berbagai kewajiban, maka engkau pun dekat kepada Allah dengan kedekatan yang lebih dicintai-Nya. Jika engkau memiliki sifat ini, maka engkau pun menjadi telinga dan mata al-Haqq. Dia mendengar dan melihat hanya dengan dirimu. Maka, tangan al-Haqq menjadi tanganmu: Orang-orang yang berjanji setia kepadamu, sesungguhnya berjanji setia kepada Allah. Tangan Allah di atas tangan mereka (QS al-Fath [48]: 10) Tangan mereka, yakni tangan Allah, ada di atas mereka… Baca entri selengkapnya »
16 Agustus 2009
Disini kita bicara
Dengan hati telanjang
Lepaslah belenggu
Sesungguhnya lepaslah
Sesuatu yang hilang
Sudah kita temukan
Walau mimpi ternyata
Kata hati nyatanya
Bagaimanapun aku harus kembali
Walau berat aku rasa kau mengerti
Simpanlah rindumu jadikan telaga
Agar tak usai mimpi panjang ini
Air mata nyatanya
Sampai berapa lama
Kita akan bertahan
Bukan soal untuk dibicarakan
Mengalirlah
Mengalirlah
Mengalirlah
(Kantata Takwa, 1990)
Roda memang berputar . Kadang hari ini kita suka, esok kita berduka. Beberapa hari kemarin, aku menceritakan tentang dia yang mewarnai hidupku. Sampai 5 tulisan aku buat tentangnya. Dan, aku sempatkan tunjukkan tulisan-tulisanku kepadanya. Dia hanya tersenyum sembari bertanya, “Mana puisinya?” Kujawab, “Ada. Tapi nanti kutunjukkannya.”
Tapi, itu tidak akan terjadi lagi. Karena, dia sudah bukan milikku lagi. Dia milik dirinya sendiri.
Aku tak menyangka kejadiannya begitu mendadak. Selepas kami melakukan semacam retreat di sebuah tempat, dalam perjalanan pulang, dia memintaku untuk berpisah. Awalnya, aku tak mau melepaskannya karena aku merasa ada ganjalan kenapa dia tiba-tiba memintaku berpisah. Aku meminta jawaban darinya di rumah saja, tidak di sebuah metromini yang hiruk pikuk. Tetapi, dia tetap bersikukuh. Dia hanya menjawab, “Saya lelah. Mari kita bermuhasabah.”
Pada akhirnya aku melepaskannya dengan banyak pertimbangan. Yang paling baik tentunya adalah memerhatikan kelelahannya. Sudahlah, aku juga tak bisa memaksanya. That is our time. Suka atau tidak. Baca entri selengkapnya »
“Saya Netral”
Selepas ikut suatu kajian bedah kitab klasik, Heru Cokro bareng satu mobil dengan rekan sepengajian. Sebut saja namanya Pak Gere. Dia cerita kepada Heru dengan penuh sumringah, “Saya nih asyik godain Bu Yaya via sms. Dia nanya kepada saya, ‘Kalau Pak Gere dihadapkan dengan peristiwa perang antara Ali dan Aisyah, apa sikap pak Gere? Kalau saya akan berpihak kepada Ali.’ Saya bilang, ‘Saya gak tahu. Saya gak bisa jawab. Sebab, menurut hadis Nabi saw, ijtihad seorang Muslim mendapat pahala.’” Lanjut Pak Gere, “Saya pernah ditanya oleh petugas mesjid waktu mau shalat Jumat di Australia, ‘Bapak Sunni atau Syi’ah?’ Saya jawab, ‘I am Muslim.’” Baca entri selengkapnya »
Dia (5)
Dalam sebuah perjalanan menuju Pulau B, di dalam kereta menuju kota S dulu, dia cerita kepadaku bahwa ibunya dibunuh oleh suaminya yang kedua. Aku kaget. Selama bercerita, ia mencucurkan air matanya. Katanya:
“Papah sama Mamah terpaut jauh dari sisi umur dan status sosial. Dari umur Papah lebih tua dari Mamah. Sementara dari status sosial, Papah berasal dari keluarga sederhana, Mamah dari kalangan cukup berada. Tapi untuk yang terakhir ini, Mamah tidak mempersoalkan. Aku pernah diceritakan oleh Papah bahwa Papah belajar dengan menggunakan lampu hotel yang ada di kampungnya karena rumahnya berdekatan dengan sebuah hotel. Papah sangat sayang sama Mamah juga sebaliknya. Baca entri selengkapnya »
Dia (4)
Dari jauh dia kirim foto kepadaku. Senyumnya yang khas dan kerudungnya yang sesuai membuatku trenyuh. Kau tahu, aku ingin sekali meneleponnya seraya mengatakan aku merindukannya; atau kukirim email kepadanya, bahwa diriku baik-baik saja (meski aku sebetulnya sering demam tapi selalu tak kuhiraukan karena pekerjaan yang menyanderaku).
Aku tidak melakukan kedua-duanya. Kuputuskan biar dia menyibukkan diri dengan kegiatan sehari-hari bersama anak-anaknya. Aku menahan diri untuk menanyakan keadaannya karena peringatan salah seorang anaknya untuk tidak “mengganggu” ibunya. Aku cukup kesal dengan kata itu. Ingin sekali kubalas email tersebut tapi aku ingat dengan seorang Sutan Syahrir yang tidak pernah mendendam meskipun kepada lawan politiknya. Dan, itu dia ajarkan kepada istrinya, Poppy, serta anak-anaknya. Syahrir yang seorang sosialis demokrat mengajariku banyak hal ketegasan, keteguhan, berani mengambil risiko dan … kesunyian karena terpisah dengan keluarga selama pembuangannya di Banda Neira, Ambon, Maluku. Baca entri selengkapnya »
Puisi Rendra
Sering kali aku berkata,
ketika orang memuji milikku, bahwa sesungguhnya ini hanya titipan,
bahwa mobilku hanya titipan Nya, bahwa rumahku hanya titipan Nya,
bahwa hartaku hanya titipan Nya,
bahwa putraku hanya titipan Nya,
tetapi, mengapa aku tak pernah bertanya,
mengapa Dia menitipkan padaku?
Untuk apa Dia menitipkan ini pada ku?
Dan kalau bukan milikku, apa yang harus kulakukan untuk milik Nya ini?
Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan milikku?
Mengapa hatiku justru terasa berat, ketika titipan itu diminta kembali oleh-Nya ?
Ketika diminta kembali,
kusebut itu sebagai musibah,
kusebut itu sebagai ujian,
kusebut itu sebagai petaka,
kusebut dengan panggilan apa saja untuk melukiskan bahwa itu adalah derita.
Ketika aku berdoa,
kuminta titipan yang cocok dengan hawa nafsuku,
aku ingin lebih banyak harta,
ingin lebih banyak mobil,
lebih banyak rumah,
lebih banyak popularitas,
dan kutolak sakit,
kutolak kemiskinan,
Seolah …
semua “derita” adalah hukuman bagiku.
Seolah …
keadilan dan kasih Nya harus berjalan seperti matematika:
aku rajin beribadah,
maka selayaknyalah derita menjauh dariku,
dan nikmat dunia kerap menghampiriku.
Kuperlakukan Dia seolah mitra dagang,
dan bukan Kekasih.
Kuminta Dia membalas “perlakuan baikku”,
dan menolak keputusanNya yang tak sesuai keinginanku,
Gusti,
padahal tiap hari kuucapkan,
hidup dan matiku hanyalah untuk beribadah… “
ketika langit dan bumi bersatu,
bencana dan keberuntungan sama saja”
(WS Rendra)
(dari milis: kajianparamadina)
Dia (3)
Baru empat hari dia pergi ke luar negeri. Aku kesepian. Sewaktu pulang ke rumah, biasanya aku mendapatinya habis mandi seolah-olah dia tengah menyambutku. Kurasa tak salah kalau aku beranggapan demikian. Karena setelah itu, dia menyiapkan makanan untukku. Setelah bincang-bincang mengenai pekerjaan, ataupun hal-hal lainnya, baru kami masuk kamar.
Tak jarang dalam suatu tema kami berdebat. Aku, yang merasa pintar darinya, tak sadar menyinggung dirinya akan ‘kekurangan ilmunya’. Itu baru ketahuan ketika akhirnya dia bilang kepadaku bahwa dirinya merasa terhina. Kalau sudah gitu, aku berusaha mati-matian merajuknya agar ia memaafkanku.
Kini ia sedang pergi menengok anaknya. Aku menyesal tak bisa memberikan kenangan manis sebelum kami berpisah di bandara. Rasanya, aku ingin berlutut di depannya menyatakan penyesalanku. Memang, pemikirannya cukup antisipatif yang baru aku ketahuan setelah sesuatu terjadi.
Sesaat aku mencuci baju kami, baru semakin kurasakan bahwa dia perempuan tangguh bagiku. Betapa tidak, setiap selesai pulang kerja, dia langsung mencuci dan mandi. Padahal itu sudah larut malam. Kadang kalau dia tidak lelah banget, dia berusaha memenuhi hajatku padahal aku sendiri bertoleransi mengingat kelelahannya. Tapi dia tetap melakukannya.
Aku cukup belajar banyak darinya mengenai kerapihan, ketertiban, keindahan, sesuatu yang khas yang menonjol pada perempuan. Sebagian itu kutularkan kepada keluargaku. Aku sering tidak paham dengan perempuan ini. Meski dihina, direndahkan–sebagaimana pengakuannya–dia tetap menyambung silaturahmi dengan orang-orang yang menghina dan merendahkannya. She’s a wonder woman for me!
Membuka Simpul Setan
Jika engkau bangun dari tidurmu, usaplah kedua matamu dan berzikirlah kepada Allah. Hal itu akan melepaskan salah buhul setan. Setan mengikatkan tiga buhul pada tengkuk salah seorang di antara kamu ketika tidur. Setiap buhul itu mengatakan, “Malammu masih panjang. Tidurlah!”
Jika engkau berzikir kepada Allah, terurailah satu buhul. Jika engkau berwudhu, terurai satu buhul berikutnya. Dan jika engkau menegakkan shalat, maka terpisahlah seluruh buhul itu.
(Ibn ‘Arabi. Wasiat-wasiat Ibn ‘Arabi, Bandung: Pustaka Hidayah, hal.163)